Thursday, May 31, 2012

Tercapai sudah hari ketiga puluh satu. Menandakan tantangan 31 Hari Menulis yang saya ikuti harus berakhir. Bingung, rentet kalimat apa yang sebaiknya dirangkai sebagai pamungkas. Akhirnya saya memilih sebuah ucap sarat kesederhanaan. Saya yang tadinya sebatas tukang nge-blog amatir, menulis hanya saat inspirasi muncul dalam kepala. Kalau sedang mandul ide, ya dibiarkan saja laman demi laman kosong tak terisi. Namun sejak mengikuti 31 Hari Menulis, saya dibiasakan untuk menulis secara rutin. Ada atau tidak ada bayangan tentang apa yang hendak diutarakan. Menulis memang proses pembiasaan. Saya setuju dengan ungkapan tersebut. Percuma bisa menulis kalau malas.

31 Hari Menulis juga membuat saya berkenalan dengan orang-orang baru sarat kecerdasan. Membuat saya makin sering berkunjung ke blog-blog hebat lainnya. Siapapun pemenang dari tantangan ini, saya ucapkan selamat. Tapi yang jelas, pengalaman mengikuti 31 Hari Menulis amat berkesan. Membuat saya lupa bahwa ada nominal berkisar satu juta sekian yang akan dibawa pulang oleh seseorang. Ah, yang penting telah banyak ilmu didapat selama sebulan penuh. Terima kasih. Mari tetap rajin menulis dan saling mengunjungi. :)


Dalam perjalanan ke Timur mencari kitab suci,

Amnesti Marta.

Wednesday, May 30, 2012

Memento Mori

Tergantung foto kita di dinding kamar. Dua gadis kecil naik ayunan sambil bergandeng tangan. Senyum merekah, memperlihatkan gigi susuku yang tersusun rapi. Sementara tiga baris depan gigimu gigis akibat kebanyakan makan permen. Mataku menyisiri satu per satu memoar mungil yang memperjelas jejak masa kecil. Rok merah muda yang kerap kaupakai saat mengikuti les tari tersusun diantara lipatan baju. Seragam olahragaku yang kaupinjam  masih terselip di celah lemari. Ucapan selamat dariku saat usiamu menginjak tujuh belas di hari kesepuluh September, tetap menempel di cermin rias sejak lima tahun silam.

Aku menyendiri di pojok ruangan. Lutut tertekuk, menyesak dada. Tarikan napas silih berganti dengan hembusan pelan karbondioksida. Pikiranku kosong, setengahnya bertualang entah ke mana. Kulihat kau menghampiriku dengan muka tenang tanpa beban. Sepandai apapun aku berusaha menutupi, kau tahu saat di mana kesedihan menyelimuti.

Kita sama-sama termakan bisu. Hanya jemarimu satu-satunya tanda bahwa kau berusaha merengkuhku. Bahasa nonverbal antarperempuan manakala intuisi dan telepati lebih bermakna ketimbang bicara. Aku berusaha terlihat tegar supaya kau tak kawatir. Kita, dua perempuan muda yang saling memeluk. Hendak membelah batas dunia.

Tiba-tiba, suasana melengang. Membuat kesempatan berkata-kata tiba.

"Kau kenapa?"

Aku mengangkat bahu sembari menyunggingkan bibir.

"Semua akan baik-baik saja. Meski tak bisa melihat, kau masih bisa merasa."

Aku menunduk.

"Hati adalah satu-satunya tempat kepunyaan manusia yang tak mengenal konsep mortalitas. Di sana, setiap jiwa hidup selamanya. Sedangkan ingatan, wahana pengembakbiakan sejarah manusia tanpa kenal masa. Muara bertemunya masa lalu, masa kini, pun cetak biru masa depan.Lalu, apa yang kau takutkan jika semua itu ada padamu?"

Aku menatapmu lekat. Engkau yang dulu bermain perosotan denganku di taman kanak-kanak. Engkau yang mengajariku bermain lompat tali. Mengajakku ke kantin tiap bel istirahat berbunyi. Saling menceritakan balada cinta pertama. Tertawa lepas hanya karena guyonan konyol. Puasa bicara lantaran aku enggan menyontekimu saat ulangan.

Belum tuntas mengingat kembali rentetan kilas balik yang bersarang dalam kenangan, kau sudah beranjak dari sampingku. Langkahmu seringan kapas. Meninggalkanku yang masih terduduk selayaknya batu. Dalam sepersekian menit, kau berhenti. Menengok ke arahku sambil menggerakkan pergelangan tangan. Nampak ingin mengajakku turut serta.

"Ayo."

Dengan berat hati, kuturuti ajakanmu. Berjalan disertai langkah gontai seolah tumit menanggung berat ratusan kilo. Sampailah kita di tempat yang kautuju. Ada ibumu di situ, dikelilingi beberapa orang asing. Kamu menghampiri seseorang, berdiri tepat di sebelahnya terbaring. Tangisku pecah. Air mata menetes tanpa henti. Bibirku gemetar. Sekujur tubuhku lemas.

Memento mori. Setiap manusia akan menemui.


"Scream aloud in the crowd, you know what i thought."
-Everybody Loves Irene-


Untuk sahabat masa kecil yang meninggalkan segudang kisah nostalgia.
Tiara Putri Pratiwi: 10 September 1990 - 12 Februari 2012


Amnesti Marta.

Tuesday, May 29, 2012

BEGO!


Bisa dibilang, keseluruhan isi After Rainy Season merupakan perwujudan alter-ego diri. Apabila bertatap muka secara langsung, mungkin Anda akan menyangsikan bahwa saya adalah pemilik blog ini. Aslinya, saya cuma seorang perempuan muda ceroboh yang kerap jadi bahan tertawaan. Berikut tiga peringkat tertinggi yang pernah saya lakukan:
1.       Memakai handuk pengesat kaki sebagai handuk badan. Diperparah dengan pemakaian lap wastafel sebagai handuk muka.
2.       Selepas makan dengan beberapa teman, kami berencana langsung pulang ke rumah. Ketika  membuka pintu mobil, tidak bisa dibuka. Karena salah mobil.
3.       Terjungkal kala ospek di depan mahasiswa baru satu fakultas.

Sekian.

Monday, May 28, 2012

Sebuah Buku Bersampul Hitam

Duduk manis di Djendelo Cafe. Menyeruput segelas kopi dingin dengan es krim vanila mengapung di atasnya. Di bawah, sepetak toko buku berdiam diri. Setelah sesiangan ini ramai, seperti siang sebelumnya. Ada harta karun di sana, beratus-ratus nama hebat mempersembahkan karya mereka. Ilmu pengetahuan yang terpajang rapi. Romansa bersanding dengan dongeng klasik.

Di bangku sebelah, tertinggal sebuah buku bersampul hitam. Kepunyaan pengunjung yang tak sengaja tertinggal. Rasa penasaran membuatku membukanya. Sebait kalimat berima menyambut pandangan mata:

"Jangan terjebak nama besar kedewasaan. Terkadang aku perlu menjadi kecil kembali untuk meng-alami-kan satu keputusan."
(Si Pemilik Buku Anonim)

Entah, siapa penulisnya. Di suatu tempat, seseorang tengah kehilangan catatan harian.


Amnesti Marta.

 

Sunday, May 27, 2012

Siapa Bilang Ngulas Band Mainstream itu Gampang? (Berbincang tentang Nidji)



Selama beberapa kali menulis ulasan tentang musik dari kacamata seorang penikmat, baru kali ini saya mengalami masa panjang untuk berpikir. Apa yang hendak saya tulis, apa yang sebaiknya saya lakukan untuk memulainya. Kemarin, iseng-iseng saya mengikuti proyek menulis cetusan Mas Jaki. Itupun karena kalimat ajakannya di ranah social media yang persuatif dengan menyangkutpautkan kata “hipster”, “indies”, dan “ikut #LearnsToPop”. Tentu saja sebagai seorang hipster sejati- tukang datang ke gig- tapi bukan anak indies, saya merasa terpanggil. Akhirnya terbersit di benak, nama sebuah band mainstream (tolong jangan tanya saya, ‘mainstream itu apa’) yang sebaiknya dijadikan materi tulisan. Nidji. Cuma itu. Selanjutnya, saya sibuk mencari kawan yang mempunyai CD mereka atau setidaknya masih mengoleksi materinya di folder PC. Hasilnya nihil. Kemudian tersadar bahwa adik kandung saya merupakan seorang fanatik Dahsyat sehingga dipastikan ia mempunyai apa yang saya butuhkan.

Memori saya tentang Nidji mengkristal sebatas album pertamanya. Band beranggotakan Giring (vokal), Rama (gitar), Ariel (gitar), Adrie (drum), Andro (bass), serta Randy (keyboard) ini memperkenalkan diri pada blantika musik Indonesia melalui album perdananya, Breakthru’. Masih lekat di ingatan manakala saya mendengarkan radio selepas pulang sekolah. Dari pengeras suara terdengar sebuah lagu yang sepintas mirip dengan ciri khas Coldplay. “Oh, Coldplay liris single baru.” Tetapi dugaan saya meleset jauh. Alih-alih suara Chris Martin, musik berintro piano dengan lirik bahasa Inggris itu adalah lagu dari pendatang baru dalam negeri, Nidji. Dengan Child- nya, Nidji semakin mengamini opini media yang menyatakan keberadaannya amat dipengaruhi oleh dedengkot pop Britania tersebut. Yang kemudian mengerucut pada dugaan penjiplakan ciri. Mempengaruhi dan terpengaruhi memang sesuatu yang biasa di ranah industri hiburan, seakan keautentikan sulit ditemukan. Sesuai dengan pernyataan Adorno dalam esai “On Popular Music” tentang kapitalisme dalam musik pop, “kapitalisme juga menumpulkan, ia meninggalkan sedikit energi bagi jalan keluar yang sebenarnya- tuntutan akan budaya yang autentik.”

Unsur kemiripan Nidji dengan Coldplay sangat kental dalam dua album pertamanya. Suara Giring yang lirih dan lengkingan tipis di beberapa bagian lagu mengingatkan pada vokal Chris Martin. Ditambah dengan aksi panggung enerjik, kepala menunduk plus tangan digerak-gerakkan seperti setengah trance atau malah depresi. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Prof. Dr. Heru Nugroho, dosen Sosiologi UGM yang saya temui ketika mengambil mata kuliah lintas jurusan Sosiologi Budaya. Beliau berkata,” mental band mainstream kita itu tukang jiplak. Setelah Changcuters kaya Rolling Stones, ada Nidji yang plek Coldplay.”

Jangan menaruh harapan berlebih, begitu motto saya ketika mendengarkan materi band-band yang berada di jalur mainstream. Karenanya, kehadiran Nidji layak diapresiasi. Sebab diantara lainnya, ia tergolong paling berkelas. Ya, ini argumen personal yang berkaca pada album pertama mereka. Jujur, kedatangan mereka kala itu serasa angin surga bagi industri musik domestik yang hidup segan mati pun enggan. Setelah Base Jam yang memeriahkan kuping generasi muda pada tengah 90’an dan Sheila on 7 sebagai Messiah yang kemudian redup perlahan. Keberanian membawa masuk materi berbahasa Inggris dengan musikalitas mumpuni. Dan menyebut Coldplay, U2, Radiohead, The Killers, dan Keane selaku kiblatnya.

Satu lagi yang menjadi daya tarik dari album perdana Nidji, videoklipnya. Saya begitu terkesima melihat videoklip Bila Aku Jatuh Cinta. Tone lo-fi, jalan cerita yang tak terlalu eksplisit sesuai lirik. Benar-benar membuat jatuh cinta. Meski, lagi-lagi, beberapa potongan gambar mengingatkan saya pada videoklip The Scientist. Adegan awal di mana Giring berbaring di rumput mirip dengan adegan awal saat Chris Martin berbaring di matras. Entah, ini hanya kebetulan atau saya terlalu mengaitkan.

Bisa ditebak, album perdananya membawa Nidji pada anak tangga kesuksesan. Impian go international sempat terdengar realistis ketika diluncurkannya English Edition dari Breakthru’. Disusul dengan penggarapan soundtrack film adaptasi novel best seller, Laskar Pelangi, yang meraih banyak respon positif. Salah satunya tercakup ke 150 lagu terbaik versi Rolling Stone Indonesia. Tak hanya film dalam negeri, lagu berjudul Shadow yang berasal dari album keduanya terpilih sebagai salah satu soundtrack drama seri Heroes.

Tapi, tuntutan komersial membuat ruhnya hilang sedikit demi sedikit. Pada album ketiganya, Let’s Play, Nidji mulai terlihat sebagaimana band mainstream lainnya. Bermain pada tema cinta menye-menye, kurang mengangkat ide lain seperti hubungan orang tua-anak atau disko malas. Di mata saya, Giring tak lagi kloningan Chris Martin dengan Jimi Multhazam versi selera pasar lokal. Penampilannya di panggung kurang greng. Degradasi dari segi muatan dalam materi makin ditunjukan oleh album Liberty yang rilis 2011 lalu. Judul lagu yang makin asal comot. Penggunaan frasa-frasa lumrah yang biasa digunakan sehari-hari sebagai liriknya. Berikut sebait kalimat dalam lagu berjudul Bebe: “Jangan kau permainkan hatiku. Engkau telfon aku kalau aku mau. Kau cium aku kalau kau butuh. Bebemu bebemu selalu kutunggu. Mengapa kau terus gantungin aku.”

Begitulah pendeskripsian atas Nidji yang bisa saya lakukan. Segumpal sanjungan mentok pada album perdana. Kemudian kabur seiring berjalannya waktu, meski masih mendatangkan perasaan tersendiri ketika materinya kembali diperdengarkan. Ah, seperti cinta pertama. Walaupun sudah berhenti menggandrungi namun tetap saja terngiang.

(Penulisan artikel untuk memenuhi tantangan #LearnsToPop ini merupakan kutukan atas kejemawaan saya selama ini. Terlalu meremehkan acara semacam Dahsyat. Gemar mencerca selera musik adik saya dengan sebutan ‘alay’, hanya karena playlist-nya berisi Wali dan Hijau Daun. Meski pernah suatu kali saya ganti dengan lagu-lagu indies, namun dia tetap mempertahankan selera asal. Demi para penonton bayaran dan Olga Syahputera, saya berjanji. Mulai kini, akan ada perdamaian antara seleranya dengan selera saya.)


Seorang hipster sejati,

Amnesti Marta.