Selama beberapa
kali menulis ulasan tentang musik dari kacamata seorang penikmat, baru kali ini
saya mengalami masa panjang untuk berpikir. Apa yang hendak saya tulis, apa
yang sebaiknya saya lakukan untuk memulainya. Kemarin, iseng-iseng saya
mengikuti proyek menulis cetusan Mas Jaki. Itupun karena kalimat ajakannya di ranah
social media yang persuatif dengan
menyangkutpautkan kata “hipster”, “indies”, dan “ikut #LearnsToPop”. Tentu saja
sebagai seorang hipster sejati- tukang datang ke gig- tapi bukan anak indies, saya
merasa terpanggil. Akhirnya terbersit di benak, nama sebuah band mainstream (tolong jangan tanya saya, ‘mainstream itu apa’) yang sebaiknya dijadikan
materi tulisan. Nidji. Cuma itu. Selanjutnya, saya sibuk mencari kawan yang
mempunyai CD mereka atau setidaknya masih mengoleksi materinya di folder PC. Hasilnya
nihil. Kemudian tersadar bahwa adik kandung saya merupakan seorang fanatik Dahsyat
sehingga dipastikan ia mempunyai apa yang saya butuhkan.
Memori saya
tentang Nidji mengkristal sebatas album pertamanya. Band beranggotakan Giring (vokal),
Rama (gitar), Ariel (gitar), Adrie (drum), Andro (bass), serta Randy (keyboard)
ini memperkenalkan diri pada blantika musik Indonesia melalui album perdananya,
Breakthru’. Masih lekat di ingatan manakala saya mendengarkan radio selepas
pulang sekolah. Dari pengeras suara terdengar sebuah lagu yang sepintas mirip
dengan ciri khas Coldplay. “Oh, Coldplay liris single baru.” Tetapi dugaan saya
meleset jauh. Alih-alih suara Chris Martin, musik berintro piano dengan lirik
bahasa Inggris itu adalah lagu dari pendatang baru dalam negeri, Nidji. Dengan Child- nya, Nidji semakin mengamini
opini media yang menyatakan keberadaannya amat dipengaruhi oleh dedengkot pop
Britania tersebut. Yang kemudian mengerucut pada dugaan penjiplakan ciri. Mempengaruhi
dan terpengaruhi memang sesuatu yang biasa di ranah industri hiburan, seakan
keautentikan sulit ditemukan. Sesuai dengan pernyataan Adorno dalam esai “On Popular Music” tentang kapitalisme
dalam musik pop, “kapitalisme juga menumpulkan, ia meninggalkan sedikit energi
bagi jalan keluar yang sebenarnya- tuntutan akan budaya yang autentik.”
Unsur kemiripan
Nidji dengan Coldplay sangat kental dalam dua album pertamanya. Suara Giring
yang lirih dan lengkingan tipis di beberapa bagian lagu mengingatkan pada vokal
Chris Martin. Ditambah dengan aksi panggung enerjik, kepala menunduk plus
tangan digerak-gerakkan seperti setengah trance
atau malah depresi. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Prof. Dr. Heru
Nugroho, dosen Sosiologi UGM yang saya temui ketika mengambil mata kuliah
lintas jurusan Sosiologi Budaya. Beliau berkata,” mental band mainstream kita itu tukang jiplak.
Setelah Changcuters kaya Rolling Stones, ada Nidji yang plek Coldplay.”
Jangan menaruh
harapan berlebih, begitu motto saya ketika mendengarkan materi band-band yang
berada di jalur mainstream.
Karenanya, kehadiran Nidji layak diapresiasi. Sebab diantara lainnya, ia
tergolong paling berkelas. Ya, ini argumen personal yang berkaca pada album
pertama mereka. Jujur, kedatangan mereka kala itu serasa angin surga bagi
industri musik domestik yang hidup segan mati pun enggan. Setelah Base Jam yang
memeriahkan kuping generasi muda pada tengah 90’an dan Sheila on 7 sebagai
Messiah yang kemudian redup perlahan. Keberanian membawa masuk materi berbahasa
Inggris dengan musikalitas mumpuni. Dan menyebut Coldplay, U2, Radiohead, The
Killers, dan Keane selaku kiblatnya.
Satu lagi yang
menjadi daya tarik dari album perdana Nidji, videoklipnya. Saya begitu
terkesima melihat videoklip Bila Aku Jatuh Cinta. Tone lo-fi, jalan cerita yang
tak terlalu eksplisit sesuai lirik. Benar-benar membuat jatuh cinta. Meski,
lagi-lagi, beberapa potongan gambar mengingatkan saya pada videoklip The Scientist. Adegan awal di mana
Giring berbaring di rumput mirip dengan adegan awal saat Chris Martin berbaring
di matras. Entah, ini hanya kebetulan atau saya terlalu mengaitkan.
Bisa ditebak,
album perdananya membawa Nidji pada anak tangga kesuksesan. Impian go international sempat terdengar realistis
ketika diluncurkannya English Edition
dari Breakthru’. Disusul dengan
penggarapan soundtrack film adaptasi
novel best seller, Laskar Pelangi,
yang meraih banyak respon positif. Salah satunya tercakup ke 150 lagu terbaik
versi Rolling Stone Indonesia. Tak hanya film dalam negeri, lagu
berjudul Shadow yang berasal dari
album keduanya terpilih sebagai salah satu soundtrack
drama seri Heroes.
Tapi, tuntutan
komersial membuat ruhnya hilang sedikit demi sedikit. Pada album ketiganya, Let’s Play, Nidji mulai terlihat
sebagaimana band mainstream lainnya.
Bermain pada tema cinta menye-menye, kurang mengangkat ide lain seperti hubungan
orang tua-anak atau disko malas. Di mata saya, Giring tak lagi kloningan Chris
Martin dengan Jimi Multhazam versi selera pasar lokal. Penampilannya di
panggung kurang greng. Degradasi dari
segi muatan dalam materi makin ditunjukan oleh album Liberty yang rilis 2011 lalu. Judul lagu yang makin asal comot. Penggunaan
frasa-frasa lumrah yang biasa digunakan sehari-hari sebagai liriknya. Berikut
sebait kalimat dalam lagu berjudul Bebe: “Jangan kau permainkan hatiku. Engkau
telfon aku kalau aku mau. Kau cium aku kalau kau butuh. Bebemu bebemu selalu
kutunggu. Mengapa kau terus gantungin aku.”
Begitulah
pendeskripsian atas Nidji yang bisa saya lakukan. Segumpal sanjungan mentok pada
album perdana. Kemudian kabur seiring berjalannya waktu, meski masih
mendatangkan perasaan tersendiri ketika materinya kembali diperdengarkan. Ah,
seperti cinta pertama. Walaupun sudah berhenti menggandrungi namun tetap saja terngiang.
(Penulisan
artikel untuk memenuhi tantangan #LearnsToPop
ini merupakan kutukan atas kejemawaan saya selama ini. Terlalu meremehkan acara
semacam Dahsyat. Gemar mencerca selera musik adik saya dengan sebutan ‘alay’,
hanya karena playlist-nya berisi Wali
dan Hijau Daun. Meski pernah suatu kali saya ganti dengan lagu-lagu indies, namun dia tetap mempertahankan
selera asal. Demi para penonton bayaran dan Olga Syahputera, saya berjanji. Mulai
kini, akan ada perdamaian antara seleranya dengan selera saya.)
Seorang hipster sejati,
Amnesti Marta.